Kamis, 24 September 2009

bengkelkomunikasi

”...Dalam suatu kesempatan, Usmar berdialog dengan Presiden Soekarno dan meminta pendapat tentang gaya (propaganda) film yang sesuai dengan revolusi Indonesia, apakah gaya Rusia (yang kurang menghibur namun padat dengan misi) ataukah Hollywood (yang punya pesan yang longgar tapi sangat diminati, dan propagandanya masuk secara halus). Bung Karno saat itu mengatakan yakni, ambil jalan tengah, yaitu menghibur tapi kaya akan pesan...”

Dampak kemajuan teknologi bidang informasi dan komunikasi pada perkembangan media massa salah satunya adalah munculnya media-media baru. Salah satu media baru yang juga paling diminati oleh masyarakat modern adalah media audio visual atau yang biasa disebut Video.
Disadari atau tidak, sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung lebih tertarik untuk menonton produk-produk video berupa film, sinetron, drama, berita, melalui media elektronik seperti televisi, bioskop, dan media digital seperti komputer ketimbang media jenis lainnya. Hal ini dikarenakan kultur masyarakat kita yang lebih condong menggunakan komunikasi lisan daripada tulisan. Media audio visual lebih mendekati bentuk komuikasi verbal lisan, bahkan terasa jauh lebih nyata karena dilengkapi dengan tampilan gambar yang bergerak.
Selain itu, kemudahan akses media massa elektronik jenis ini juga kian mudah dan makin terjangkau. Televisi seakan bukan lagi menjadi barang mewah arena hampir tiap rumah terdapat televisi di dalamnya. Ditambah pula dengan jumlah stasiun televisi yang banyak dan jenis acara yang semakin beragam. Hal ini lantas membuat penikmat media video seakan tidak pernah bosan dengan acara yang disajikan setiap hari.
Kini, produk komunikasi audio visual ini tidak lagi hanya bisa dinimati secara pasif, atau digunakan untuk sekedar mencari hiburan atau sebagai sumber informasi saja, melainkan telah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sehari-hari kita. Seperti pembuatan profil sekolah, kampus, atau perusahaan tertentu, domentasi kegiatan, penyampaian materi sekolah, dan lain-lain. Materi audio visual akan terasa lebih menarik dan nyata daripada sekedar menyampaikan pesan secara verbal atau melalui media cetak saja.Namun, terkadang sebagian besar orang menyangka bahwa pembuatan produk audio visual ini rumit dan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Sepintas bisa jadi demikian, namun tidak seluruhnya benar. Perkembangan teknologi dewasa ini semakin mempermudah proses produksi video dan memangkas ongkos yang dikeluarkan. Sekarang saja, orang dapat dengan mudah mencari telepon seluler yang dapat merekam gambar, malakukan transfer kemudian mengeditnya dengan komputer di rumah, lalu mempublikasi karya tersebut melalui internet di warnet terdekat menggunakan flashdisk. Tidak begitu sulit bukan? Sebagaimana membuat sebuah karya seni, yang diperlukan hanya sedikit kreatifitas dari si pembuat pesan. Biaya besar bukan jaminan sebuah karya audio visual dikatakan bermutu. Intinya, pesan dapat tersampaikan dengan baik.



Apakah Bengkel Komunikasi itu?
Bengkel Komunikasi adalah sebuah komunitas yang dirikan untuk menampung minat para siswa SMA yang memiliki ketertarikan di dunia Ilmu Komunikasi khusunya di bidang Produksi Audio Visual. Nama bengkel komunikasi ini pada awalnya didapatkan dari sebuah kelompok mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sebelas Maret Surakarta yang dibentuk untuk membantu melaksanakan kegiatan teknis perkuliahan video. Mirip dengan asisten dosen, namun sifatnya lebih informal. Karena belum ada hak paten mengenai nama kelompok ini, maka saya sengaja menggunakannya untuk komunitas ini. Diharapkan melalui nama bengkel, dapat merepresentasikan kegiatan produksi, penelitian dan pengembangan, eksperimen, maupun proses apresiasi yang akan dilakukan kelompok ini.
Apa Tujuan didirikanya komunitas ini?
Tujuan didirikannya Komunitas ini adalah untuk menampung potensi minat dan bakat Siswa-siswi SMA di bidang produksi Audio Visual. Selain itu, melalui komunitas ini juga diharapkan dapat membangun sebuah forum yang aktif dalam melakukan kajian-kajian mengenai perkembangan ilmu komunikasi khusunya di bidang Audio Visual. Seperti diketahui,
Kaum muda memiliki etos kreatif bersendikan kepercayaan diri dan kesanggupan menanggung resiko sehingga memiliki keberanian untuk mendeskontruksi bangunan lama menjadi baru (creative destruction). Margaret Boden dalam “The Creative Mind” (1962).
Sehingga menjadi sebuah bentuk optimisme bahwa kaum muda memiliki cara penyaluran bakat dan kreativitas yang segar dan penuh semangat. Sungguh sayang apabila bakat dan minat serta optimisme mereka tersebut tidak tersalurkan dalam saluran yang positif.
Bagaimana konsep dan kegiatan Bengkel Komunikasi?
Konsep komunitas ini adalah berupa sebuah forum siswa siswi SMA yang dalam kurun waktu tertentu mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan menambah pengetahuan dan pengalaman di bidang produksi Video. Kegiatan tersebut antara lain adalah produksi video seperti film pendek, dokumenter, animasi, iklan, berita, dll, selain itu, ada juga kegiatan diskusi yang berwujud apresiasi film, sosialisasi pada masyarakat, undangan narasumber, kunjungan ke stasiun televisi atau studio-studio video dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan, fokus kegiatan meluas pada berbagai bidang lain yang berhubungan dengan llmu komunikasi lain seperti Fotografi, Periklanan, Desain Komunikasi Visual, Radio, Internet, bahkan Public Relation. Hal ini karena, pada dasarnya kegiatan produksi audio visual membutuhkan berbagai kemampuan baik tim maupun individual yang baik. Inilah yang membedakan dari kegiatan-kegiatan lain sejenis. Produksi Audio Visual membutuhkan kerja sama tim yang solid dan profesional.
Luaran yang diharapkan?
Diharapkan Bengkel Komunikasi dapat menjadi sarana para anggotanya untuk bisa mamanfaatkan Ilmu Komunikasi dan teknologi Audio Visual untuk menunjang kegiatan sehari-hari yang sifatnya positif.
Jadi diharapkan para mantan siswa sekaligus calon mahasiswa memiliki bekal tambahan di luar bidang akademis, yaitu kemampuan komunikasi yang di atas rata-rata.

Sebagai kegiatan non akademis, pada dasarnya, Bengkel komunikasi belum memiliki kurikulum tertentu. Hanya pada saat ini, kegiatan bengelkomunikasi berkisar pada produksi video, baik film, eksperimental, fiksi maupun dokumenter. Jadi, materi yang diberikan merupakan penguasaan teknik produksi video seperti, pengenalan kamera foto, dan fotografi, pengunaan kamera video, beserta sinematografi, dan penguasaan software-software editing video dan penunjangnya. (yes)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.