Minggu, 02 Januari 2011

Documentary Cinema History

”Documentary start with an idea and a desire to communicate it to the audiences”

Dua puluh tahun setelah Edweard Muybridge, fotografer Inggris-Amerika menangkap gambar aktual mengenai gerakan seorang joki di atas seekor kuda yang berlari berjudul Jockey on a Galloping Horse (1887), yang menjadi inspirasi awal dibuatnya gambar bergerak, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat rekam gambar bergerak sederhana hasil temuan mereka. Bentuknya masih sangat sederhana. Yakni, hanya terdiri dari satu shot, tanpa suara, berwarna hitam putih, dengan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Pada masa inilah, muncul film-film yang diistilahkan sebagai “actuality films” generasi paling awal dan paling sederhana dari film dokumenter.
Kemudian, pada tahun 1922, yaitu 27 tahun setelah Lumiere bersaudara menemukan Cinematographe, kamera film yang lebih mutakhir daripada milik Edison, Robert Joseph Flaherty (1884 – 1951), seorang penambang asal utara Kanada melakukan pengambilan gambar pada sebuah keluarga suku Inuit di Antartika (Kutub Utara). Film yang kemudian dipublikasikan dengan judul Nanook of The North itu lantas segera saja populer sebagai film nonfiksi pertama, yang menggabungkan unsur sinematografi dan aspek naratif di dalamnya.
Film yang pengambilan gambarnya diawali pada tahun 1915 dengan proses penyuntingan di Toronto sepanjang 30.000 kaki footages ini dipercaya merupakan bentuk awal model ”feature-length documentary” yang banyak dipakai hingga sekarang. Kesuksesan film yang pada awalnya ditolak banyak produser film karena dianggap tidak menjual tersebut mengantarkan Flaherty melakukan ekspedisi pembuatan dokumenter berdurasi panjang berikutnya. Kali ini ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter perjalanan / travelogue sejenis Nanook, yang kemudian diberi judul Moana (1926).
Tak lama kemudian, John Grierson, seorang jurnalis sekaligus kritikus film adalah orang yang kali pertama menyematkan istilah “documentary” melalui tulisanya di harian New York Sun ketika membahas film berjudul Moana karya Flaherty tersebut. Pemrakarsa British Documentary Movement ini kemudian memberikan definisi yang hingga kini masih relevan dipakai para pengamat dokumenter generasi selanjutnya secara sederhana sebagai “the creative treatment of actualities”.
Selain itu, sukses Nanook sekaligus menginspirasi sineas-produser seperti Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation's Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam, Thailand.
Pada tahun 1922, Dziga Vertov yang bernama asli Denis Abrahmovich Kaufman, seorang dokumentaris asal Sovyet yang berlatar belakang reporter. mempelopori teori „Kino Eye“. Teori tersebut dipraktikkannya melalui beberapa karyanya antara lain; Kino-Pravda (Film Kebenaran) serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Ia berpendapat bahwa kamera merupakan mata film, dan film dokumenter bukan menceritakan sesuatu yang obyektif, melainkan suatu realitasa berdasarkan apa yang terekam oleh kamera sebagai mata film. Mata film ini disebutnya sebagai Kino-Eye atau Kino-Glaz. Para pionernya adalah dokumentaris asal Prancis. seperti Pierre Perrault, Chris Marker, Mario Ruspoli, Jean Rouch.
Kemunculan teknologi suara pada tahun 1930 an semakin memantapkan teknis pembuatan film dokumenter. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan beragam. Salah satunya adalah Triump of the Will (1934) dan Olympia (1936) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang pada masa itu digunakan sebagai alat propaganda Nazi.
Ketika perang dunia II berlangsung, perkembangan film dokumenter seakan meningkat pada tahap yang lebih tinggi. Hollywood dipercaya membuat film-film dokumenter propaganda milik Amerika. Tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) karya Capra yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.
Pada masa damai usai kekalahan Jepang tahun 1945 yang menutup Perang Dunia II, perkembangan film dokumenter selanjutnya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi komunikasi, yaitu kemunculan teknologi video dan digital broadcasting yaitu televisi. Akibatnya, dokumenter terpecah menjadi dua kubu; film dokumenter dan dokumenter televisi. Dokumenter film umumnya berdurasi panjang, dan bebas menggunakan tipe shot, sedangkan dokumenter televisi umumnya cenderung lebih banyak menggunakan tipe shot close up, dan medium close up. Hal ini hanya merupakan penyesuaian besaran antara layar televisi dengan bioskop. Namun, ketika muncul media Internet dan teknologi High Definition, ketika ukuran layar televisi memiliki perbandingan yang sama dengan Bioskop, sehingga persoalan dokumenter pada televisi dan film dokumenter tidak menjadi masalah lagi.

Beberapa Pendekatan Film Dokumenter
Film dokumenter termasuk dalam kategori film non cerita, Pada mulanya ada dua tipe film non cerita yaitu yang termasuk dalam film dokumenter dan film faktual. Film faktual, umumnya menampilkan fakta. Kamera sekedar merekam peristiwa. Film ini hadir dalam bentuk film berita (newsreel) dan film dokumentasi. Film berita, titik beratnya pada segi pemberitaan atau suatu kejadian aktual. Selain itu, terdapat istilah film dokumentasi. Yakni, sebuah bentuk media audio visual yang hanya merekam kejadian tanpa diolah lagi, misalnya dokumentasi peristiwa perang atau upacara kemerdekaan.
Selain di televisi, contoh nyata penggunaan film dokumenter jenis ini dapat ditemukan pada salah satu yayasan di Amerika Serikat. Yakni, ketika pada tahun 1992, muncul rekaman aktual mengenai kasus pemukulan Rodney King di Los Angeles, yang kemudian menjadi awal munculnya WITTNESS yakni LSM yang bergerak dibidang HAM dan secara khusus memanfaatkan Video sebagai media utama dalam mendukung kinerja mereka dalam memperjuangkan HAM. LSM tersebut kini telah memiliki lebih dari 200 mitra di 50 Negara Bagian Amerika Serikat serta sejumlah 2000 jam footages penting.
Sedangkan film dokumenter didefinisikan oleh John Grierson sebagai “the creative treatment of actualities”. Hal ini karena realitas dalam film dokumenter merupakan sebuah esplorasi kreatifitas dari sang pembuat film berdasar pada perspektifnya terhadap realitas dunia nyata. Pada tingkatan ini, sebagian ahli berpendapat bahwa film dokumenter telah masuk pada ranah fiksi, yaitu imajinasi pembuat film terhadap kenyataan yang dialaminya. Fakta yang disajikannya hanya sebatas pada bahan penyusunnya saja. Namun, dengan menggunakan fakta sebagai bahan dasarnya tersebut, film dokumenter berkembang menjadi sebuah bentuk menyampaian pesan yang tidak hanya secara faktual dan naratif, tapi juga argumentatif.
Kelebihan video atau meda rekam audio visual lainnya adalah kemampuannya yang tidak hanya sekedar menceritakan (to tell), tapi juga menunjukkan (to show). Seperti halnya film fiksi, film dokumenter sebisa mungkin dibuat dengan tujuan untuk membawa audiensnya ke dalam pengalaman sebagaimana terlihat jikalau mereka berada di posisi yang sama. Unsur dramatik juga menjadi bagian penting dalam film dokumenter.
Di Indonesia mislnya, ketika pihak militer pada era Orde Baru menggunakan media audio visual dalam melakukan pencitraan seperti halnya film Rambo di Amerika Serikat. Dalam film dokudrama G30S PKI tampak jelas pencitraan bahwa militer merupakan penyelamat bangsa. Medium film sebenarnya memiliki potensi menjadi medium idologisasi militer kala itu. Namun, karena banyak film indonesia yang jelek, akhirnya medium itu pun menjadi tidak efektif. Berbeda dengan film Rambo yang digarap dengan serius oleh Amerika Serikat. Pada tahap inilah, kualitas sebuah film menjadi sebuah faktor yang juga menentukan selain pada kontennya. Tidak hanya melulu masalah konsep, tapi juga, diperlukan pemikiran yang mendalam mengenai aspek naratif dan sinematografinya.
Beberapa prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar peletakan pendekatan dalam pembuatan film dokumenter. Terdapat 3 jenis pendekatan, antara lain; Cinema Verite, Direct Cinema, dan Free Cinema. Cinema Verite (film kebenaran) dipelopori oleh Dziga Vertov yang bernama asli Denis Abrahmovich Kaufman, seorang dokumentaris asal Sovyet yang berlatar belakang reporter.
Sebagai sebuah pendekatan, Cinema Verite mengetengahkan realita secara sederha dan apa adanya, yang diyakini dapat mempertahankan dan menjaga spontanitas aksi dan karakter lokasi otentik sesuai realita. Karenanya, ada yang menyebut pendekatan ini sebagai Spontaneous Cinema atau etnographic film. Umumnya, 90% proses pembuatan film terletak pada proses editing. Sehingga, editor memilki peran sentral dalam pendekatan ini.
Gaya Cinema Verite yang oleh Michael Rabinger dianggap sebagai semangat awal pembuatan film dokumenter ini kemudian baru berkembang di Amerika pada dekade 1960-an, dengan nama Direct Cinema. Perbedaan kedua pendekatan ini ada pada cara membangun dramatika atau konflik. Jika Cinema Verite cenderung agresif, maka Direct Cinema nampak lebih pasif. Bahkan, Cinema Verite terkadang menjadi provokator atas terjadinya konflik dalam film. Berbeda dengan Direct Cinema yang cenderung menunggu apa yang terjadi di depan kamera.
Sedangkan Free Cinema berkembang di Inggris pada dekade 1950-an. Free Cinema pada dasarnya, bukan sepenuhnya masuk dalam kategori dokumenter. Pendekatan ini merupakan bentuk lain yang mencoba mendobrak gaya konvensional yaitu salah satunya dengan menggabungkan dokumenter dengan fiksi. Hal ini berkaitan dengan pendapat beberapa pengamat film yang menganggap bahwa gerakan Free Cinema merupakan gejolak para sineas Inggris yang ingin membangun citra perfilman Inggris yang sempat terpuruk.
Dalam hal cara bertutur, atau aspek naratif, film dokumenter memiliki beberapa macam jenis, antara lain; bentuk laporan perjalanan, sejarah, potret/biografi, perbandingan, kontradiksi, ilmu pengetahuan, nostalgia, rekonstruksi, investigasi, assosciation picture story, buku harian, dan dokudrama yang dipelopori Sergei Esenstein. Sergei Esenstein sebenarnya tidak pernah secara khusus membuat film dokumenter, namun beberapa film fiksi sejarah karyanya, antara lain; Strike (1924) dan The Battlship Potemkins (1925) memiliki kualitas realisme dokumenter yang merepresentasikan sejarah bangsa Rusia yang kemudian menjadi pencetus dari genre Dokudrama tersebut.
Selain itu, memasuki dekade 1990-an, muncul istilah hybrid documentary yang merupakan pengembangan segala unsur audio visual, serta melakukan pengadeganan layaknya certa fiksi yang mengacu pada prinsip penuturan dokumenter.

Sumber;
Ayawala, Gerzon R. 2008. Dokumenter, Dari Ide Sampai Produksi.
Baker, Maxin. “Documentary in the Digital Ages”. Focal Press: Boston
Kriwaschek, Paul, Documentary for Small Screen, Focal Press
Lester, Paul Martin. 2008. Visual Communications Third Editions; Images with Messages. Wadsworth; USA
Rabinger, Michael. 1998. Directing the Documentary third Edition. Focal Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.