Minggu, 31 Oktober 2010

Sinema sebagai Media

Fakta bahwa film adalah bentuk budaya impor, dan hingga kini masih berkiblat dan didominasi oleh perkembangan dunia sinema barat membuat tidak sedikit masyarakat Indonesia yang memiliki dasar norma dan nilai berbeda sulit menerimanya begitu saja. Memang pada satu sisi demikian harusnya, namun bukan serta-merta ditolak begitu saja. Film tetap memiliki penikmatnya, terutama masyarakat yang mengenyam pendidikan yang telah dibangun dengan landasan budaya barat (sekolah).

Bertukar teknologi bukan hanya sekedar pertukaran fisikal melainkan seperangkat unsur budaya yang mendukung teknologi tersebut. Hal ini karena teknologi selalu diciptakan dalam sebuah konteks budaya, sehingga penggunaanya selalu melibatkan konteks budaya dimana ia diciptakan. Sebut saja sinema, bukan serta merta berupa artefak (benda) saja (misal: kamera, projector, media rekam lainnya), namun juga beserta seperangkat unsur budaya lain yang saling melengkapi. Mulai dari aspek seni yakni teknik estetika sinema, sinematografi, teknik proses produksi, aspek ekonomi sepertii industri film, aspek sosial seperti komunitas-komunitas film, penonton, kritikus film dan sebagainya.

Bahwa film hanya sebentuk media komunikasi adalah benar, namun jika dihadapkan dalam berbagai konteks yang berbeda, film menjadi lebih daripada media penyampai pesan semata. Di saat yang sama film adalah alat propaganda, ia merekam fakta visual dan audial, ia mengaduk-aduk emosi penontonnya, ia membuat masyarakat membeli tiket setiap malam minggu. Begitu kuatkah kemampuan film dalam memengaruhi audiens-nya?

Kejadian ini pada dasarnya tidak jauh berbeda ketika Wayang, yang menjadi media Audio Visual paling kuno, digunakan oleh para Wali Song dalam menyampaikan pesan dakwah. Se-mutakhir apapun teknlogi sinema yang digunakan, pada dasarnya teknologi tersebut hanyalah seperangkat perpanjangan tangan manusia. Pertanyaan sebenarnnya bukanlah pada seberapa canggih namun lebih pada kebutuha mana yang dapat dipenuhi oleh teknologi sinema tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.