Senin, 26 April 2010

Membangun Budaya Film Komunitas

Film lebih dari sekedar hiburan. Budaya film menumbuhkan daya apresiasi substantif pada khalayak terhadap sebuah karya film. Kesadaran akan makna apresiasi ini kemudian menciptakan apa yang disebut kepekaan intelektual sehingga seseorang dapat menerima bermacam bentuk idealisme melalui media massa secara lebih obyektif dan selektif.
Sejarah telah membuktikan, bahwa film pernah disebut sebagai “senjata” komunikasi mutakhir, yang memilki daya pengaruh tinggi pada khalayak meski hanya beberapa saat. Mulai dari pengukuh legitimasi atau propaganda, sebagaimana film G30S/PKI pada masa Era Orde Baru atau film produksi Dziga Vertov ketika mempropagandakan idealisme komunis usai Lenin berkuasa di Uni Sovyet, sumber informasi dan pendidikan pada film-film dokumenter produksi National Geographic atau Documentary Channel, hingga hiburan komersil yang umumnya diproduksi oleh Holywood.
Meski demikan, terdapat satu hal yang pasti dari film, sebagaimana disampaikan pakar teori film, Sigfried Kracauer, bahwa film mencerminkan mentalitas suatu bangsa lebih dari yang tercermin dari media artistik lainnya. Inilah yang membuat film menjadi media baru yang paling akurat merepresentasikan kondisi etnografik suatu masyarakat.

Film Indonesia
Para pengamat film meramalkan, siklus kematian film Indonesia sedang sedang kembali terjadi. Ditandai dengan munculnya film-film “rendah mutu” yang sekedar berorientasi kapital semata. Film-film semacam ini umumnya mengumbar gambar dan cerita yang sarat eksploitasi seks, horor, guyonan remeh-temeh, minim substansi, dan berbiaya murah, asal banyak menarik massa.
Tidak lantas diam saja, kenyataan tersebut ternyata mendapatkan tanggapan progresif oleh para pegiat film muda tanah air masa kini. Mereka sadar, bahwa teknologi yang semakin murah memungkinkan dominasi dunia perfilman tidak melulu berpusat di ranah Ibu kota saja. Tidak seperti masa lalu, ketika film selalu identik dengan biaya tinggi dan perspektif metropolis. Kini, hanya mengeluarkan beberapa rupiah, setiap orang dapat membuat filmnya sendiri.
Kesadaran tersebut didorong oleh kenyataan bahwa Indonesia merupakan tambang budaya yang menjadikannya begitu kaya akan sumber bahan film. Oleh karena itu, tidak semestinya film-film “sampah” yang kini mendominasi slot tayang bioskop di tanah air, ikut pula mendangkalkan pemikiran masyarakat kita. Mereka berhak diberikan alternatif pilihan yang lebih layak. Yakni, film bermutu.
Alhasil, pada beberapa waktu ini, munculah tunas-tunas film indie di daerah yang kini justru semakin mampu menunjukkan kualitasnya. Dari situ, lahir nama sutradara-sutradara baru dan berbakat yang mulai diperhitungkan. Kondisi ini kemudian disuburkan pula oleh ramainya festival-festival film indie yang secara berkala, menguji performa para sineas-sineas muda tersebut.

Momentum
Pelaksanaan konferensi nasional Film Komunitas Indonesia di Solo 18-21 Maret kemarin, melahirkan pemikiran solutif mengenai perkembangan dunia perfilman Indonesia ke arah yang baru. Bahwa film bukan miliki orang-orang yang memilki kekuatan kapital semata. Setiap orang dapat menciptakan film mereka sendiri, demi kepentingan masing-masing.
Momen ini dapat dianalogikan dengan masa ketika munculnya budaya tandingan yakni budaya rakyat (folk culture) atas dominasi budaya yang diciptakan oleh kaum kapitalis. Namun, kelahiran apa yang disebut folk cuture ini lantas bukan berarti begitu saja netral dan lepas dari usaha-usaha komodifikasi, uamanya yang berasal dari para pemilik modal. Terlebih, jika dilihat dari segi ekonomis, momentum semacam ini tidak lebih dari sekedar tambang emas baru di mata para pengusaha.
Sebuah kemahfuman bahwa demokrasi dan pasar bebas telah membuat wilayah ini menjadi medan abu-abu yang bisa dimasuki siapa saja dengan leluasa. Terlebih, masalah ketiadaan regulasi dan minimnya dukungan pemerintah serta partisipasi publik sendiri semakin membuka peluang ini. Sehingga, diperlukan adanya konsistensi agar komunitas tidak terintervensi oleh kepentingan golongan tertentu yang justru menciptakan involusi budaya film yang merugikan pegiatnya.
Oleh karena itu, hal ini kemudian menjadi tugas para akivis film di ranah lokal, yang tergabung dalam jejaring komunitas film Indonesia, secara lebih lantang, menjaga idealisme budaya film di tengah masyarakat. Yakni, menegakkan pemikiran bahwa film lebih dari sekedar hiburan. Film adalah saluran untuk usaha-usaha membangun peradaban yang tidak semata-mata larut dalam euforia kapitalisme belaka. (yes)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.