Senin, 26 April 2010

Peranan Aspek Seni Film

Media massa merupakan instrumen komunikasi yang berkembang berkat kekuatan teknologi. Kemampuannya menembus batas geografis dan kesenjangan waktu membuatnya memiliki keunggulan tersendiri dalam menyebarkan pesan secara serentak kepada orang banyak. Meski pesannya bersifat searah dan tertunda, namun, bentuk dan variasinya dapat diwujudkan dalam berbagai tingkatan kreatifitas manusia yang tidak terbatas.
Film adalah salah satu instrumen media yang mampu memberikan dampak tertentu bagi penikmatnya. Namun, layaknya sebuah lukisan, film tidak dapat lepas dari peranan seniman yang melahirkannya, dalam hal ini adalah sineas.
Memang, di tengah globalisasi, seorang seniman baik klasik maupun kontemporer, termasuk sineas atau pembuat film di dalamnya, tengah dituntut untuk memiliki pendirian yang lebih tegas. Karena, sebagaimana diwacanakan oleh Warih Wisatsana selalu ada 3 simpangan kenyataan yang harus dihadapi mereka dalam berkarya. Pertama, berpihak sepenuhnya pada tradisi, dengan resiko luput bahwa tradisi tersebut sedang termanipulasi. Kedua, menelan mentah-mentah sistem simbolik globalisasi yang ditawarkan. Dengan demikian, seorang seniman menceburkan diri ke dalam wilayah budaya yang tidak jelas arahnya. Ketiga, mengungkapkan masalah-masalah sebenarnya secara sistematis melalui sarana artistik yang ada secara lokal maupun global, sehingga menciptakan modernitas atau postmodernitas. Tentunya dengan berasumsi bahwa masyarakat sebagai agen sekaligus pasien dalam perubahan yang dialaminya.
Film
Selain Nanook of the North dan Moana, muncul pula beberapa film dokumenter yang memberikan dampak besar bagi sejarah perfilman dunia, salah satunya ialah besutan sutradara asal Amerika Serikat, Michael Moore, berjudul Fahrenheit 9/11. Film yang dikabarkan penuh dengan kontroversi karena kontennya menohok presiden AS, George W. Bush pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Film yang bercertia tentang bisnis keluarga Bush yang berhubungan dengan Osama bin Laden berujung pada penyerangan AS Irak ini lantas memecahkan rekor pendapatan tertinggi untuk kategori film dokumenter di AS dan memenangi penhargaan Palme dr’ Or pada tahun 2004.
Selain itu, film genre dokumenter kini memiliki penggemarnya sendiri. Terbukti dengan munculnya beberapa stasiun televisi yang menspesalisasikan diri pada penayangan film dokumenter seperti National Geographic, Documentary Channel, Animal Planet, dan sebagainya. Sehingga tidak berlebihan jika media audio visual ini dikatakan memiliki peran yang strategis untuk merawat memori kultural dalam sebuah bangsa atau entitas tertentu.
Dalam aspek seni visual, kamera merupakan bentuk alat yang masih muda jika dibandingkan dengan peralatan seni lainnya. Layaknya sebuah kuas dan kanvas, kamera menjadi mata, sekaligus ekspresi imaji seorang seniman film dengan mengkonversikan kreativitasnya ke dalam sebuah bidang 2 dimensi elektronis yang realisik. Semenjak manusia menemukan film sebagai medium ekspresi, muncul satu jalur seni baru. Yakni seni bertutur melalui media pandang dan dengar. Sebuah perpaduan antara bentuk visual yang berawal dari lukisan, dan bunyi-bunyian serta suara yang harmonis menjadikan film merupakan seni tinggi, apabila dapat dikreasi sedemikian rupa. Inilah artefak menakjubkan abad modern yang akan menjadi warisan kulural yang berharga di kemudian hari, layaknya candi borobudur. (yes)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.