Senin, 26 April 2010

Mengukur Nasib Film Indonesia

Sebagian besar dari kita pasti pernah menonton Film. Entah itu film drama, komedi, horor, action dan sebagainya. Tempat menonton film-pun juga beragam. Ada yang menonton film di televisi, komputer, atau gedung bioskop. Tidak sedikit dari kita rela menyisihkan uang saku hanya untuk menikmati bahkan mengoleksi film, mengunpulkan pernak-pernik, meniru kata-kata atau gaya sang tokoh utama dalam film.
Apa tujuan kita sehingga tertarik menonton suatu film? Apakah untuk mendapatkan hiburan? Mendapatkan informasi baru? Ingin menonton bintang pujaan tengah memerankan tokoh utama dalam cerita film tersebut? Atau malah kesemuannya? Lepas dari semua tujuan tersebut, kita tetap merasa asyik saat tengah menonton film.
Film mampu memberikan hiburan sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral dalam adegan-adegannya. Tak jarang kita dibuat ikut bersedih saat menonton film drama, merasa gembira saat menonton film komedi, dan tegang saat menonton film horor. Film jelas mampu memengaruhi pemirsanya. Terutama jika kualitas cerita dan gambar dalam film yang kita tonton bagus, layaknya film-film blockbuster keluaran Holywood.
Inilah yang membuat industri film mampu menghasilkan keuntungan milyaran dolar. Peminat film tidak pernah surut, bahkan semakin meningkat tiap tahunnya. Orang tua, remaja, anak-anak, dari segala golongan dan status sosial budaya dapat dengan leluasa menikmati film.
Film merupakan media komunikasi massa dengar pandang (audio visual) yang dibuat berdasarkan asas sinematografi, dengan menggunakan bahan baku celluloid dalam berbagai ukuran melalui proses kimiawi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik. Lebih jauh, pengertian film kini semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi produksi film yang masuk pada ranah digital. Terlepas dari tata cara produksinya, atau sarana pengambilan gambarnya, prinsipnya, film adalah suatu wujud gambar yang bergerak.
Film lebih dari sekadar hiburan. Seperti yang diungkapkan kritikus film Ekky Al-Malaky dalam tulisannya Menonton : Nggak Sekedar Cari Hiburan,Powerfullnya Sebuah Film, dinyatakan olehnya bahwa film adalah media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan, karena film adalah media komunikasi. Dalam mukadimah Anggaran Dasar Karyawan Film dan Televisi 1995. Dijelaskan bahwa film:
“…bukan semata-mata barang dagangan, tetapi merupakan alat pendidikan dan penerangan yang mempunyai daya pengaruh yang besar sekali atas masyarakat, sebagai alat revolusi dapat menyumbangkan dharma bhaktinya dalam menggalang kesatuan dan persatuan nasional, membina nation dan character building, mencapai masyarakat sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila”.
Oleh karena itu, banyak ahli komunikasi berpendapat bahwa sungguh sayang apabila Film digunakan untuk kepentingan komersil semata. Terlebih, mengingat bahwa dunia perfilman Indonesia kini sedang mengalami geliat kebangkitan.
Selain unsur komersil, film juga bisa digunakan untuk melancarkan propaganda, seperti halnya film-film perang Amerika, yang kebanyakan menunjukan kemenangan negara Paman Sam tersebut, padahal tidak demilikian kenyataanya. Meski begitu, tidak sedikit orang yang gemar menonton film heroik macam ini. Mungkin karena terdapat adegan yang sarat aksi dan dramatisasi di sana-sini membuatnya seakan apa yang terjadi dalam film tersebut nampak seperti kenyataan. Penonton dibuat menahan nafas dan ikut mersakan ketegangan di tengah medan tempur. Hal inilah yang membuat film menjadi sebuah media propaganda yang begitu efektif. Ia dapat terus-menerus menyampaikan pesan propaganda tanpa membuat mata dan pikiran kita terlepas untuk memperhatikannya barang sedetik.
”...Dalam suatu kesempatan, Usmar berdialog dengan Presiden Soekarno dan meminta pendapat tentang gaya (propaganda) film yang sesuai dengan revolusi Indonesia, apakah gaya Rusia (yang kurang menghibur namun padat dengan misi) ataukah Hollywood (yang punya pesan yang longgar tapi sangat diminati, dan propagandanya masuk secara halus). Bung Karno saat itu mengatakan yakni, ambil jalan tengah, yaitu menghibur tapi kaya akan pesan...”
Rudy Soedjarwo saat menggarap film Mengejar Matahari menyatakan bahwa terlalu sayang kalau film yang sangat ampuh dalam mempengaruhi seseorang itu hanya untuk kepentingan komersial belaka. Sedang Riri Riza dan Mira Lesmana mengatakan bahwa semangat utama mereka membuat Gie adalah karena ingin menyalurkan kegelisahannya.
Mendukung apa yang dikatakan Eka, dalam penelitianya yang membahas mengenai studi wacana kritis mengenai kemerdekaan pada film Pagar Kawat Berduri (2009), bahwa para sineas-sineas muda saat ini, mesti lebih lantang menyuarakan idealismenya. Jangan sampai semata-mata larut dan menyerah dalam himpitan kapitalisasi. Sungguh saying jika film hanya digunakan untuk menjadi alat pengeruk uang semata. Terlebih, pegiat-pegiat film di daerah semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya. Mulai dari pelaksanaan festival film-film indie, hingga konferensi film komunitas yang diadakan di Solo, pada 18 Maret 2010 lalu. Melalui jalur indie inilah, kemungkinan besar masa depan dunia perfilman Indonesia diperaruhkan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Mira Lesmana, dalam salah satu artikel KOMPAS edisi 28 Maret 2010, yang melihat bahwa kegiatan tersebut (konferensi film komunitas. Red) menunjukkan bahwa amunisi dunia perfilman masa yang akan datang di Indonesia cukup banyak.
Lantas apa yang bias kita lakukan utuk mendukung itu semua? Paling tidak, mulailah dari mengapresiasi film di sekitar anda! (yes)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.