Senin, 26 April 2010

Tentang Televisi Publik

“Untuk sebagian besar orang, hanya ada dua tempat terpenting di dunia, yaitu tempat mereka hidup dan tempat televisi diletakkan “

Televisi adalah media yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh data dari pendidikan jurnalisme TV, Universitas Indonesia tahun 2004 yang menyebutkan jumlah televisi yang beredar di Indonesia saat itu mencapai angka 30 Juta. Jumlah tersebut diperkirakan terus mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Bukti itu kemudian diperkuat oleh data Nielsen Media Research, yang pada tahun 2004 menyebutkan; penetrasi media televisi di Indonesia mencapai 90,7%, sedangkan radio 39%, suratkabar 29,8%, majalah 22,4%, internet 8,8%, dan orang menonton bioskop sebesar 15%. Singkatnya, televisi sudah menjadi bagian dari sebagian besar kehidupan masyarakat Indonesia. Perkembangan keberadaannya telah jauh melampaui media lain.
Pernahkan kita bertanya, mengapa televisi begitu digemari masyarakat Indonesia? Bisa jadi, hal ini karena sebagai media audio visual, televisi tidak membebani banyak syarat bagi audience-nya. Setiap orang dari berbagai tingkat usia, pendidikan, status sosial dan ekonomi dapat menikmatinya tanpa perlu keahlian khusus. Tidak seperti media cetak yang mengharuskan konsumennya untuk dapat membaca. Ditmbah pula, budaya lisan yang akrab dengan bangsa Indonesia cenderung lebih dekat dengan budaya audio visual ketimbang budaya membaca. Sehingga praktis, masyaraka Indonesia lebih memilih media audio visual alih-alih menggunakan media cetak atau suara.
Selain itu, televisi dapat menyajikan pesan/objek yang sebenarnya termasuk hasil dramatisir secara audio visual dan unsur gerak (live) dalam waktu bersamaan (broadcast). Pesan yang dihasilkan televisi dapat menyerupai benda/objek yang sebenarnya. Sehingga efek yang diakibatkan media ini sungguh memeras perhatian kebanyakan indera kita. Semakin banyak indera yang dilibatkan dalam suatu proses komunikasi, mengakibatkan komunikasi menjadi semakin efektif.
Bahkan kini, televisi sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hal ini karena kegiatan menonton televisi bukanlah aktivitas soliter, sendiri dan terpisah dari aktivitas lainnya. Sebaliknya, menonton televise merupakan aktivitas sosial yang jalin-menjalin dengan tanggung jawab dan tugas-tugas rutin pengelolaan rumah tangga sehari-hari. Sehingga seseorang tetap dapat melakukan kegiatan sehari-hari sambil tetap menikmati tayangan televisi. Berbagai kelebihan itulah yang membuat media elektronik ini lebih dipilih masyarakat daripada media massa lainnya di Indonesia.
Kenyataan akan besarnya pengaruh keberadaan televisi dalam kehidupan manusia, khususnya masyarakat Indonesia sudah dibenarkan oleh banyak pihak. Ini dibuktikan dengan makin banyaknya kajian-kajian kritis, forum, seminar, buku-buku yang membahas mengenai dampak televisi bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, maupun politik masyarakat Indonesia.
Namun, jika kita melakukan analisis dari sisi lain, yaitu mengenai apakah stasuin-stasiun televisi di Indonesia sebagai penyedia utama acara televisi tersebut sudah memenuhi apa yang kebutuhan masyarakat?
Fakta menyebutkan bahwa sejumlah 60 persen masarakat Indonesia adalah masyarakat agraris, namun, hanya 5 persen acara televisi, mulai dari berita hingga sinetron yang berbicara tentang pertanian.
Tidak hanya sampai di bidang agraris, salah satu momok dunia pertelevisian nasioanal justru terbentur pada masalah pendidkan. Meski belum bisa sdipastikan berapa besar andil acara televisi dalam memberikan pendidikan pada masyarakat, namun diperkirakan dari sebagian besar acara-acara yang disajikan stasiun-stasiun televisi begitu sedikit yang memiliki oreientasi pada unsur pendidikan ini. Padahal, sebagaimana gagasan pembangunan siaran televisi Indonesia yang sejak semula adalah untuk pendidikan nasional. Artinya, misinya adalah demi kepentingan publik. Untuk itulah pemerinta RI yang pada 1962 dipimpin oleh Soekarno mendirikan TVRI
Memasuki masa Orde Baru, televisi yang melayani kepentingan publik (Public Service Broadcasting) berangsur-angsur berubah menjadi televisi yang berpihak pada kepentingan pemerintah. Diawali pada 16 Agustus 1976, saat presiden Soeharto meresmikan penggunaan satelit Palapa untuk telekomunikasi dan siaran televisi. TVRI kemudian disimpangkan menjadi alat propaganda pemerintah. Hingga pada akhirnya terjadi reformasi tahun 1998 yang juga merupakan tonggak didirikannya kebebasan pers di kalangan media. Media tidak lagi dikuasi oleh tangan penguasa di bangku pemerintahan.
Dari fakta ini saja kita sudah dapat menyimpulkan bahwa televisi_secara gamblang_berpihak kepada penguasa dan pengusaha. Padahal, kebudayaan audio visual hanya dapat berkembang kalau televisi menjadi wujud konkrit kreativitas rakyat, bukan semata-mata golongan tertentu saja. Oleh karena itu, dalam kondisi ini, TV publik dan komunitas adalah salah satu pilihan yang terbaik.
Ironisnya, alih-alih kembali pada media yang berorientasi kepada publik, kekuatan modal pasca praktik demokrasi ekonomi mengambil alih kendali media massa yang semula di tangan pemerintah, justru kemudian berpindah kembali kepada para pemilik modal, kaum kapitalis. Media kini hanya dimiliki dan dipengaruhi oleh segelintir pihak saja. Hal ini mengingat, dalam memulai sebuah industri media disamping memerlukan tenaga professional, dibutuhkan sejumlah rupiah yang tidak sedikit. Sehingga, kekuatan modal-lah yang berbicara. Masyarakat cukup hanya menonton saja. (yes, terinspirasi dari buku Televisi Publik, Membangun Media Demokrasi di Indonesia)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kritik dan Saran senantiasa kami nantikan demi sempurnanya kinerja bengkelkomunikasi ke depan. Terimakasih.